iklan

https://www.profitableratecpm.com/q85r05dmc6?key=a8f36070159cc244bee1bee5eb5fe064

29 Maret 2014

Pusat Latihan Gajah Minas

Pusat pelatihan gajah ini terletak di daerah minas, Kabupaten Siak Provinsi Riau, jika dari kota pekanbaru dapat diakses mengarah ke kandis dengan waktu tempuh sekitar 1 jam, tidak begitu jauh dengan Tahura SSH. pengelolaan PLG minas ini bekerjasama dengan BBKSDA Riau dan Dinas Kehutanan Provinsi Riau. tempat ini menangani gajah liar yang terlibat konflik dan di bawa ke tempat ini untuk dikarantina.
gajah liar tersebut akan dilatih dan dikarantina oleh para mahout (pawang gajah) yang ada di PLG Minas, biasanya gajah liar yang ditangkap telah memakan pucuk sawit yang masih muda yang mengakibatkan kematian pada sawit dan gajah mati akibat di racun, padahal sebenarnya itu bukan salah gajah lho sob, itu sudah merupakan jalur jelajah gajah yang telah berubah menjadi kebun sawit, gajah hanya mengikuti narulinya. jika sudah tidak ada lagi makanan maka sawitlah yang menjadi sasarannya. manusia seharusnya tidak serakah dengan membuka semua hutan untuk dijadikan perkebunan sawit. mereka juga ingin hidup sama seperti kita.
nah foto-foto di atas merupakan antraksi gajah yang sudah terlatih di PLG Minas, ada bermain basket, mengalungkan bunga, baris berbaris, duduk di kursi, berdiri di kursi dll. perlu dikathui gajah merupakan hewan yang pintar. dapat mengingat dengan baik intruksi yang diberikan oleh mahoutnya. mahout dengan gajah memiliki hubungan batin yang baik. tapi ingat walau bagaimanapun gajah tetap binatang liar yang memiliki naluri liar. jadi perlu berhati-hati ketika berada didekat gajah. PLG Minas memiliki rumah sakit gajah, dokter hewan, gajah latih, 1 unit fuso untuk mencari pakan. masalah yang dihadapi adalah sulitnya mencari pakan hewan besar ini sob. maka dari itu tetap jaga dan lestarikan hutan yang ada di Riau ini...jangan sampe anak cucu kita besok tidak dapat melihat hewan yang terancam punah ini. save elephant now !!!
Nah bagi teman-teman , mahasiswa-mahasiswi ataupun keluarga yang ingin melihat hewan ini, antraksinya juga ingin mengenal lebih jauh tentang gajah sumatera ini silahkan datang ke PLG Minas y.......ayooo yang mau naik gajah....buruannnnn......



27 Maret 2014

webmaster

https://www.google.com/webmasters/verification/verification-file-dl?hl=in&siteUrl=http://www.kerjaforesterblogspot.com/&security_token=V6X3Sp3FHVK98-PSlRs5wtZgeLI:1395916636566

26 Maret 2014

ALIRAN BATANG (STEM FLOW)



Tugas Kelompok Rimbawan
Program Studi Kehutana Fakultas Pertanian Universitas Riau
Pekanbaru 


1.      Definisi aliran batang (stemflow)
Aliran batang (stemflow) adalah Bagian air yang mengalir lewat sepanjang batang ke permukaan tanah ( Pramono dalam Anderson et al. 1976). Definisi lain juga mengatakan Stemflow merupakan air hujan yang jatuh dari batang dan cabang tanaman / pohon. Arah air ini menyebabkan permukaan tanah disekitar batang tanaman menerima penambahan. Besarnya aliran batang ini ditentukan oleh bentuk daun dan arsitektur dari cabang dan batang pohon. Secara umum, pohon berdaun lebar memiliki aliran batang yang lebih besar dibandingkan dengan pohon berdaun jarum. Aliran batang (Stemflow) adalah bagian air hujan yang mengalir melalui ranting, dahan selanjutnya ke batang dan jatuh ke tanah (Sri Harto, 1993).

2.      Faktor yang mempengaruhi aliran batang
besar kecilnya aliran batang (stemflow) dipengaruhi oleh :
·         struktur batang
·          kekasaran kulit batang pohon dan kemampuan meyimpan air
·         bentuk tajuk dan kepadatan tegakan
·         Ada atau tidaknya tumbuhan epifit
·         komposisi jenis spesies
·         model arsitektur suatu pohon
Bangunan pohon ini berhubungan dengan pola pertumbuhan batang, percabangan dan pembentukan pucuk terminal. Model arsitektur suatu pohon mempengaruhi besarnya aliran batang (stemflow) dan curahan tajuk (through/all), selanjutnya aliran batang dan curahan tajuk menentukan besarnya aliran permukaan dan erosi tanah Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif. Dalam kasus tertentu, histogram kelas ketinggian atau biomassa dibuat sebagai pelengkap diagram profil hutan. Suatu stratum pohon dapat membentuk suatu kanopi yang kontinu atau diskontinu. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya tajuk-tajuk yang saling bersentuhan secara lateral. Istilah kanopi adakalanya sinonim dengan stratum.
Kanopi berarti suatu lapisan yang sedikit banyak kontinu dari tajuk-tajuk pohon yang tingginya mendekati sama, misalnya permukaan yang tertutup. Atap dari hutan kadangkala juga disebut kanopi. Di dalam hutan hujan, permukaan ini dapat dibentuk oleh tajuk-tajuk dari stratum yang paling tinggi saja. Stratifikasi tajuk dalam hutan hujan tropika dipisahkan oleh beberapa stratum antara lain:Stratum A: Merupakan lapisan teratas terdiri dari pohon-pohon yang tingginya sekitar 80 meter ke atas, misalnya shorea sp. Di antaranya terdapat juga pohon yang rendah, tetapi umumnya tinggi pepohonan mencapai rata-rata 40-50 meter dan bertajuk tidak beraturan (diskontinu) sehingga tidak saling bersentuhan membentuk lapisan yang bersinambungan. Pepohonan tersebut umumnya mempunyai 3 atau 4lapisan tajuk, batang yang tumbuh lurus, tinggi, serta batang bebas cabangnya cukup tinggi.
Pada hutan stratum A ini banyak dijumpai liana-liana berbatang tebal, berkayu, bersifat herba dan epifit. Stratum B: Terdiri dari pohon-pohon yang mempunyai tinggi 18¬30 meter dengan tajuk yang beraturan (kontinu). Batang pohon umumnya bercabang dan batang bebas cabangnya yang tidak begitu tinggi. Jenis pohon pada stratum ini kurang memerlukan cahaya atau tahan naungan (toleran).Stratum C: Terdiri dari pohon-pohon yang mempunyai tinggi 4-18 meter dan bertajuk kontinu. Pohon-pohon dalam stra¬tum ini rendah, kecil dan banyak bercabang banyak. Lapisannya bersinambungan dan agak rapat.Stratum D: Terdiri dari lapisan perdu dan semak yang mempunyai tinggi 1-4 meter. Termasuk di dalamnya adalah pohon¬pohon muda, palma-palma kecil, herba besar dan paku-pakuan besar.Stratum E: Terdiri dari lapisan tumbuh-tumbuhan penutup tanah atau lapisan lapangan yang mempunyai tinggi 0-1 meter. Ordinasi merupakan suatu cara dengan menyusun atau menderet-deretkan data sampling berdasarkan koefisien ketidaksamaan. Variasi dalam unit-unit sampling (releve) yang diteliti dijadikan sebagai dasar untuk menggambarkan pola ordinasi. Berdasarkan model geometrik yang dihasilkan dari hasil analisis, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa titik yang saling berdekatan merupakan unit-unit sampling yang mempunyai pola kesamaan dalam komunitas, sedangkan titik-titik yang saling berjauhan adalah unit-unit sampling yang mempunyai perbedaan komunitas. Berdasarkan perbedaan tersebut hasil analisis ordinasi dapat dilanjutkan dengan mengkorelasikan pola komunitas pada unit-unit sampling dengan faktor lingkungan dari unit-unit sampling tersebut, sehingga dapat diketahui penyebab perbedaan pola komunitas di antara unit-unit sampling tersebut<br />Kanopi/tajuk hutan merupakan factor pembatas bagi kehidupan tumbuhan, karena dapat menghalangi penetrasi cahaya ke lantai hutan. Keberhasilan sebuah pohon untuk mencapai kanopi hutan tergantung karakter/ penampakan anak pohon. Variasi ketersediaan cahaya dan perbedaan kemampuan antar spesies anak pohon dalam memanfaatkannya dapat mempengaruhi komposisi dan struktur vegetasi hutan.
Stratifikasi kanopi merupakan salah satu konsep tertua dalam ekologi hutan tropis. Konsep ini telah dikembangkan sejak permulaan abad ke-19, namun masih menjadi perdebatan. Beberapa peneliti menyatakan adanya strata pada kanopi hutan, namun peneliti lain tidak menemukannya. Penyebab utama kerancuan ini adalah subyektivitas definisi dan metode yang digunakan. Istilah stratifikasi digunakan untuk tiga perbedaan yang saling terkait, yaitu:1. Stratifikasi vertikal biomassa (Ashton dan Hall, 1992)2. Stratifikasi vertikal kanopi (Grubb dkk., 1963), dan3. Stratifikasi vertikal spesies (Oliver, 1978).Stratifikasi boleh jadi ada berdasarkan salah satu definisi, tetapi tidak ada berdasarkan definisi lainnya. Misalnya, biomassa dapat saja terstratifikasi, tetapi kanopi tidak dapat ditentukan stratifikasinya, atau kanopi spesies yang sama terletak pada strata yang berbeda. Namun ada atau tidaknya strata kanopi, konsep stratifikasi tetap merupakan alat yang sangat berguna untuk mengkaji distribusi vertikal tumbuhan dan hewan. Metode tertua dan paling banyak digunakan untuk mengkaji stratifikasi/arsitektur kanopi adalah diagram profil hutan secara vertikal dan horizontal. Teknik ini pertama kali diterapkan oleh Watt (1924) pada hutan temperate, sedangkan Davis dan Richards (1933) adalah orang pertama yang menerapkannya pada hutan tropis Model arsitektur pohon adalah bangunan suatu pohon sebagai hasil pertumbuhan meristematik yang dikontrol secara morfogenetik. Bangunan pohon ini berhubungan dengan pola pertumbuhan batang, percabangan dan pembentukan pucuk terminal.
Model arsitektur suatu pohon mempengaruhi besarnya aliran batang (stemflow) dan curahan tajuk (through/all), selanjutnya aliran batang dan curahan tajuk menentukan besarnya aliran permukaan dan erosi tanah Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif. Dalam kasus tertentu, histogram kelas ketinggian atau biomassa dibuat sebagai pelengkap diagram profil hutan. Suatu stratum pohon dapat membentuk suatu kanopi yang kontinu atau diskontinu. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya tajuk-tajuk yang saling bersentuhan secara lateral. Istilah kanopi adakalanya sinonim dengan stratum. Kanopi berarti suatu lapisan yang sedikit banyak kontinu dari tajuk-tajuk pohon yang tingginya mendekati sama, misalnya permukaan yang tertutup. Atap dari hutan kadangkala juga disebut kanopi. Di dalam hutan hujan, permukaan ini dapat dibentuk oleh tajuk-tajuk dari stratum yang paling tinggi saja. Stratifikasi tajuk dalam hutan hujan tropika dipisahkan oleh beberapa stratum antara lain:Stratum A: Merupakan lapisan teratas terdiri dari pohon-pohon yang tingginya sekitar 80 meter ke atas, misalnya shorea sp. Di antaranya terdapat juga pohon yang rendah, tetapi umumnya tinggi pepohonan mencapai rata-rata 40-50 meter dan bertajuk tidak beraturan (diskontinu) sehingga tidak saling bersentuhan membentuk lapisan yang bersinambungan. Pepohonan tersebut umumnya mempunyai 3 atau 4lapisan tajuk, batang yang tumbuh lurus, tinggi, serta batang bebas cabangnya cukup tinggi. Pada hutan stratum A ini banyak dijumpai liana-liana berbatang tebal, berkayu, bersifat herba dan epifit. 
Stratum B: Terdiri dari pohon-pohon yang mempunyai tinggi 18¬30 meter dengan tajuk yang beraturan (kontinu). Batang pohon umumnya bercabang dan batang bebas cabangnya yang tidak begitu tinggi. Jenis pohon pada stratum ini kurang memerlukan cahaya atau tahan naungan (toleran).Stratum C: Terdiri dari pohon-pohon yang mempunyai tinggi 4-18 meter dan bertajuk kontinu. Pohon-pohon dalam stra¬tum ini rendah, kecil dan banyak bercabang banyak. Lapisannya bersinambungan dan agak rapat.Stratum D: Terdiri dari lapisan perdu dan semak yang mempunyai tinggi 1-4 meter. Termasuk di dalamnya adalah pohon¬pohon muda, palma-palma kecil, herba besar dan paku-pakuan besar.Stratum E: Terdiri dari lapisan tumbuh-tumbuhan penutup tanah atau lapisan lapangan yang mempunyai tinggi 0-1 meter. Ordinasi merupakan suatu cara dengan menyusun atau menderet-deretkan data sampling berdasarkan koefisien ketidaksamaan.
Variasi dalam unit-unit sampling (releve) yang diteliti dijadikan sebagai dasar untuk menggambarkan pola ordinasi. Berdasarkan model geometrik yang dihasilkan dari hasil analisis, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa titik yang saling berdekatan merupakan unit-unit sampling yang mempunyai pola kesamaan dalam komunitas, sedangkan titik-titik yang saling berjauhan adalah unit-unit sampling yang mempunyai perbedaan komunitas. Berdasarkan perbedaan tersebut hasil analisis ordinasi dapat dilanjutkan dengan mengkorelasikan pola komunitas pada unit-unit sampling dengan faktor lingkungan dari unit-unit sampling tersebut

Model arsitektur suatu pohon mempengaruhi besarnya aliran batang (stemflow) dan curahan tajuk (through/all), selanjutnya aliran batang dan curahan tajuk menentukan besarnya aliran permukaan dan erosi tanah Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan kualitatif. Dalam kasus tertentu, histogram kelas ketinggian atau biomassa dibuat sebagai pelengkap diagram profil hutan. Suatu stratum pohon dapat membentuk suatu kanopi yang kontinu atau diskontinu. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya tajuk-tajuk yang saling bersentuhan secara lateral. Istilah kanopi adakalanya sinonim dengan stratum. Kanopi berarti suatu lapisan yang sedikit banyak kontinu dari tajuk-tajuk pohon yang tingginya mendekati sama, misalnya permukaan yang tertutup. Atap dari hutan kadangkala juga disebut kanopi. Di dalam hutan hujan, permukaan ini dapat dibentuk oleh tajuk-tajuk dari stratum yang paling tinggi saja. Stratifikasi tajuk dalam hutan hujan tropika dipisahkan oleh beberapa stratum antara lain:Stratum A: Merupakan lapisan teratas terdiri dari pohon-pohon yang tingginya sekitar 80 meter ke atas, misalnya shorea sp.
Di antaranya terdapat juga pohon yang rendah, tetapi umumnya tinggi pepohonan mencapai rata-rata 40-50 meter dan bertajuk tidak beraturan (diskontinu) sehingga tidak saling bersentuhan membentuk lapisan yang bersinambungan. Pepohonan tersebut umumnya mempunyai 3 atau 4lapisan tajuk, batang yang tumbuh lurus, tinggi, serta batang bebas cabangnya cukup tinggi. Pada hutan stratum A ini banyak dijumpai liana-liana berbatang tebal, berkayu, bersifat herba dan epifit. Stratum B: Terdiri dari pohon-pohon yang mempunyai tinggi 18¬30 meter dengan tajuk yang beraturan (kontinu). Batang pohon umumnya bercabang dan batang bebas cabangnya yang tidak begitu tinggi. Jenis pohon pada stratum ini kurang memerlukan cahaya atau tahan naungan (toleran).Stratum C: Terdiri dari pohon-pohon yang mempunyai tinggi 4-18 meter dan bertajuk kontinu.
Pohon-pohon dalam stra¬tum ini rendah, kecil dan banyak bercabang banyak. Lapisannya bersinambungan dan agak rapat.Stratum D: Terdiri dari lapisan perdu dan semak yang mempunyai tinggi 1-4 meter. Termasuk di dalamnya adalah pohon¬pohon muda, palma-palma kecil, herba besar dan paku-pakuan besar.Stratum E: Terdiri dari lapisan tumbuh-tumbuhan penutup tanah atau lapisan lapangan yang mempunyai tinggi 0-1 meter. Ordinasi merupakan suatu cara dengan menyusun atau menderet-deretkan data sampling berdasarkan koefisien ketidaksamaan. Variasi dalam unit-unit sampling (releve) yang diteliti dijadikan sebagai dasar untuk menggambarkan pola ordinasi. Berdasarkan model geometrik yang dihasilkan dari hasil analisis, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa titik yang saling berdekatan merupakan unit-unit sampling yang mempunyai pola kesamaan dalam komunitas, sedangkan titik-titik yang saling berjauhan adalah unit-unit sampling yang mempunyai perbedaan komunitas.

Model arsitektur pohon adalah bangunan suatu pohon sebagai hasil pertumbuhan meristematik yang dikontrol secara morfogenetik. Bangunan pohon ini berhubungan dengan pola pertumbuhan batang, percabangan dan pembentukan pucuk terminal. Model arsitektur suatu pohon mempengaruhi besarnya aliran batang (stemflow) dan curahan tajuk (through/all), selanjutnya aliran batang dan curahan tajuk menentukan besarnya aliran permukaan dan erosi tanah. Pada akhirnya erosi akan menimbulkan kerusakan pada tanah tempat erosi terjadi dan tempat diangkutnya tanah tererosi tersebut. Dalam sistem agroforestry kebun campur, jenis-jenis pohon yang ditanam selama ini hanya berdasarkan pertimbangan pada fungsi dan manfaat ekonominya, sedangkan fungsi konservasi tanah dan air belum dipertimbangkan. Di Indonesia, penelitian tentang model arsitektur pohon dan kaitannya dengan konservasi tanah dan air masih jarang dilakukan, sehingga aspek model arsitektur pohon belum dipertimbangkan dalam usaha konservasi tanah dan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya aliran batang, curahan tajuk, aliran permukaan dan erosi tanah pada arsitektur pohon model Massart dan Rauh di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi bagi pemilihan jenis-jenis pohon yang sesuai dengan model arsitekturnya untuk mendukung usaha konservasi tanah dan air. Dalam penelitian ini tercatat 30 hari kejadian hujan dengan total curah hujan 548,2 mm dan total lama hujan 74,30 jam. Kategori hujan sangat ringan ( < 5 mm/hari ) terjadi sebanyak 6 kali, hujan ringan ( 5 - 20 mm/hari ) sebanyak 14 kali dan hujan > 20 mm/hari sebanyak 10 kali. Semua kejadian hujan mempunyai kemampuan untuk menjenuhkan tajuk dan menghasilkan aliran batang, curahan tajuk, aliran permukaan dan erosi tanah. Pengamatan di lapangan menunjukan bahwa arsitektur pohon model Massart memiliki beberapa nilai karakteristik kedalaman tajuk, diameter tajuk, luas tajuk, diameter batang dan luas bidang dasar yang lebih besar dibandingkan dengan model Rauh. Nilai-nilai karakteristik pohon tersebut dipengaruhi oleh sifat arsitektur pohonnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara curah hujan dengan aliran batang dan curahan tajuk masing-masing model arsitetur pohon adalah linier.

3.      cara mengukur aliran batang (stemflow)
Dihitung stemflow dengan rumus
SF = X / ΠR 2
Keterangan
SF = Stemflow
X = air tertampung
R = Jari-jari proyeksi tajuk

      Untuk mengukur besarnya aliran batang adalah dengan melingkarkan setengah selang plastik pada permukaan batang yang telah dibersihkan terlebih dahulu dengan ketinggian selang antara 1 hingga 5 meter diatas permukaan tanah. Hal ini untuk mencegah percikan air hujan dari lantai hutan pada saat hujan berlangsung. Selang direkatkan dengan Lem atau Getah sehingga posisi selang tetap berada pada tempatnya.
Jumlah air yang jatuh ketanah melalui aliran batang bergantung pada besarnya sudut yang dibentuk oleh batang tumbuhan terhadap permukaan tanah, volume aliran batang umumnya mencapai maksimum pada sudut batang kurang dari 900. Berdasarkan hasil karya van Elewick (1998) volume aliran batang dapat diestimasi dengan menggunakan persamaan berikut :
a.       untuk tumbuhan dengan diamater batang lebih kecil dari median volume butir-butir hujan :
SF = TIF (Cos PS-Sin2PA)
b.      untuk tumbuhan dengan diameter batang lebih besar dari median volume diameter butir-butir hujan :

SF=TIF Cos PA
Yang menyatakan SF adalah volume aliran batang (mm), TIF adalah volume air hujan yang jatuh menimpa tajuk dalam mm, dan PA adalah sudut rata-rata yang dibentuk oleh batang tumbuhan dengan permukaan tanah dalam drajat. Pada persaaan tersebut sin PA menyatakan pengaruh panjang daun dan batang yang terproyeksikan pada tanaman.
Beberapa catatan mengenai volume aliran batang adalah sebagai berikut. Finney (1984) dari hasil pengamatannya mendapatkan bahwa tanamna beet gula dengan penutupan tajuk 28% menghasilkan aliran batang sebanyak 42% dari volume curah hujan, sedangkan Apleemans, van jove dan de leenher (1980) mencatat angka aliran batang sebanyak 55 % dari curah hujan untuk tanaman yang sama.Bui dan Box (1992) dari percobaan laboratorium mencatat aliran batang pada jagung dan sorgum masing-masing sebesar 44% dan 31% dari curah hujan. Herwitch (1987) mendapatkan bahwa 80 persen dari curah hujan yang menimpa cabang pepohonan yang bersudut 600 terhadap permukaan tanah, menjadi aliran batang. Air yang sampai kepermukaan tanah melalui aliran batang tidak memiliki energi yang cukup untuk menyebabkan terjadinya pengahancuran butir-butir tanah. Kekuatan perusak air aliran batang akan terjadi setelah menjadi aliran permukaan.
Gambar pemasangan alat aliran batang (stem flow)
Aliran batang dan air lolos mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendistribusikan nutrisi melalui curah hujan. Air hujan yang jatuh membawa unsur yang diperlukan bagi tanaman. Bagian air hujan yang mengalir melalui batang ataupun air lolos membawa unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman dengan jumlah dan konsentrasi yang berbeda yang akan dikembalikan kepada tanah. Dengan demikian terjadi siklus unsur hara yang dikembalikan ke tanah melalui guguran yang terjadi pada tanaman.



Daftar Pustaka

Pramono, hadi.http://eprints.ums.ac.id/128/1/2._PRAMONO_HADI.pdf (Diakses apda 20 November 2011)
Anonimhttp://library.forda-mof.org/libforda/data_pdf/2314.pdf(Diakses apda 20 November 2011)









23 Maret 2014

Berpetualang di Tasik Serai





Gambaran umum lokasi

 Akses Jalan
Desa sadar jaya
Dari pekanbaru dapat diakses menggunakan jalur darat selama 3 jam mengarah kearah sungai pakning, Terletak dekat langkat dengan kondisi jalan ada yang jalan koral berlubang parah dan aspal sedikit yang kondisinya sudah mulai rusak. Jalan di pemukiman sudah di semenisasi dengan lebar 2 m. Suku yang mendiami lebih didominasi oleh suku jawa, suku lainnya adalah suku melayu. Pekerjaan masyarakat lebih banyak sebagai petani sawit. Namun ada juga yang menakik getah dan mencari ikan di sungai. Vegetasi disekitar sungai yang ada di desa sadar jaya adalah rasau dan semak belukar. perjalanan menuju stasiun riset tasik serai ditempuh dengan menggunakan boat dengan lama perjalanan selama 6 jam dengan menyusuri sungai siak kecil yang ada. nah ini dia foto stasiun riset nya...yang bekerja sama dengan tokoh masyarakat yang dikenal dengn sebutan pak mangku.

Desa Yang Berada di sekitar Stasiun Riset :
Desa bagan benio dan desa pulai bungkuk
Transportasi yang dapat digunakan untuk mengakses kdua desa ini dengan menggunakan transportasi air seperti pompon.sampan dan speed boat. Pekerjaan masyarakat adalah sebagai pembuat salai ikan, ikan asin, penyadap getah karet. Kondisi tanah adalah tanah mineral. Suku yang menominasi adalah suku melayu. Upacara adat pada saat kegiatan pernikahan dan sembah tanah. Di desa bagan benio juga terdapat suluk tarekat naksabandiyah.
  Jalur wisata dan lokasi jembatan pengamatan
Lokasi kedua tempat tersebut terletak di desa pulai bungkuk sekitar 2 km jauhnya, jika ditempuh dengan berjalan kaki memakan waktu 1 jam perjalanan, sepanjang jalan dapat ditemui pohon dan satwa seperti : meranti, asam glugur, nasi-nasi, sendok-sendok, rengas, mempisang, kelulut pada pohon rengas, terap, lutung, beo, rangkong dan pohon karet milik masyarakat. Pohon tersebut memiliki diameter yang cukup besar bahkan ada yang sudah di atas 1 m diameternya.
 ada yang tau kelulut ? sejenis lebah penghasil madu yang kecil bentuknya hampir sebesar lalat, dalam bahasa ilmiah lebih di kenal dengan sebutan avis ciena dan avis carana. ini dia foto sarangnya di pohon  sob.



21 Maret 2014

Kebakaran Tajuk (Pengantar Perlindungan Hutan)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang

Mata kuliah Pengantar Perlindungan Hutan merupakan salah satu mata kuliah wajib yang harus di ambil dalam prodi kehutanan sebagai dasar pelajaran selanjutnya, di dalam mata kuliah Pengantar pelrindungan Hutan banyak mempelajari tentang bagaimana cara pengendalian Pathogen dengan prinsip silvikultur dan lain sebagainya yang masih banyak lagi. Dalam makalah ini akan membahas tentang kebakaran tajuk hutan,sebenarnya hampir sama pada kebakaran pada umumnya hanya saja kebakaran tajuk terjadi karena adanya loncatan api yang berasal dari dahan dan daun yang terbakar sehingga dapat meluas pada tanaman yang lain yang berada di sekitarnya.
Kebakaran tajuk ini masih jarang kita jumpai di Indonesia, kalau yang terjadi di Indonesia kebanyakan kebakaran permukaan yang menyeluruh mengenai semua bagian pohon tanpa terkecuali,kami sebagai penulis menemukan kebakaran tajuk terjadi di luar negeri tepatnya di Korea utara akibat adanya percobaan penggunaan nuklir yang mengakibatkan terbakarnya tajuk pohon yang berada dalam pegunungan.
Kasus kebakaran memang sudah sering terjadi di Indonesia khususnya yang mengakibatkan terbakarnya seluruh kawasan hutan,hal ini di sebabkan oleh tiga factor yang di kenal dengan segitiga api yaitu adanya bahan bakar berupa daun,seresah dll. Adanya panas, adanya udara. Tiga hal tersebut merupakan factor utama penyebab kebakaran hutan. Semoga makalah ini bermanfaat.




1.2                        Tujuan dan Manfaat

a.      Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:
·                     Mengetahui kerusakan akibat kebakaran pada tajuk
·                     Untuk mengetahui cara penanggulangan pada kasus kebakaran tajuk
·                     Mekanisme terjadinya kebakaran tajuk
·                     Untuk mengetahui konsep segitiga api
·                     Untuk memberikan pemahaman kepada pembaca terhadap terhadap kerusakan akibat kebakaran tajuk

b.      manfaat
Manfaat yang dapat kita ambil setelah kita membaca makalah ini adalah :
·                     Dapat mengetahui definisi tentang kebakaran tajuk
·                     Tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan kebakaran tajuk
·                     Dapat menambah pengetahuan kita di bidang kebakaran hutan
·                     Dapat mengetahui tentang api loncat penyebab kebakaran
·                     Agar mengetahui cara pengendalian terhadap kerusakan tajuk




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Kebakaran tajuk  merupakan kebakaran yang terjadi karena terbakarnya pohon (ranting-daun) yang diakibatkan oleh api loncat (spot fire) yang umumnya timbul pada saat terjadinya kebakaran permukaan. Api kebakaran tajuk ini jarang yang berasal dari pohon itu sendiri. Pada jenis kebakaran tajuk ini, api akan cepat membesar dan sangat sulit dipadamkan. Kebakaran ini seringkali menimbulkan api loncat. Kecepatan meluasnya kobaran api lambat, berkisar 2 – 4 km/jam. Tiupan angin akan menyebabkan menyebarnya percikan api dan ranting yang sedang terbakar dan menimbulkan bahaya tersendiri bagi operasi pemadaman.
Api loncat merupakan api yang loncat dari pohon yang terbakar kepada pohon lain sehingga pohon itu ikut terbakar juga sehingga terus meluas, hal tersebut akibat adanya pengaruh angin sehingga bunga api loncat ke tumbuhan di sekitar sehingga ikut terbakar juga. Di bawah ini ada beberapa gambar yang menunjukan terjadinya kebakaran tajuk.
Gambar tersebut menunjukkan adanya percikan api yang terbawa oleh angin yang menyebar ke pohon lain.
Dari dua gambar di atas tampak tajuk-tajuk pohon terbakar oleh api,sering kali di tambah banyaknya sisa kayu penebangan atau bahan mati lainnya, sehongga api capat membesar. Pada tanaman berdaun jarum (conifer) kebakaran tajuk terjadi sangat mudah karena kandungan resin yang tinggi pada bagian-bagian pohonnya.
2.2 Mekanisme Terjadinya Kebakaran Tajuk Pohon
Dengan kondisi oksigen melimpah,kebakaran menimbulkan nyala api yang besar dan dengan mudah bergerak dari satu tajuk ke tajuk lain yang ada di dekatnya, hal ini akibat adanya loncatan api. Panas yang di timbulkan oleh nyala api yang besar dapat menurunkan kadar air bahan-bahan tumbuhan di dekatnya sehingga menambah kecepatan bagian-bagian tersebut terbakar menjadi kebakaran elips yang besar. Kebakaran tajuk dapat mematikan pohon-pohon dan semak serta tumbuhan bawah termasuk lapisan bahan organic. Bagaimana tumbuhan tidak mati jika tajuknya sudah terbakar, bagaimana fotosintesis dapat terjadi bila tempat berlangsung fotosintesis telah terbakar, apa lagi jaringan-jaringan yang ada di pohon ikut terbakar dan mati.

2.3 Syarat Terjadinya Kebakaran Tajuk
Pada konsepnya sama pada kasus kebakaran seperti biasanya, syarat terjadinya kebakaran tajuk hutan di pengaruhi oleh 3 hal yang lebih di kenal dengan segitiga api yaitu :
a)      Benda yang dapat terbakar
b)      Temperatur (panas)
c)      Udara (oksigen)
Berikut adalah gambar skemanya dalam bahasa inggris.
Ketiga hal tersebut sangat berkaitan, jika hanya ada udara saja tanpa adanya bahan yang mudah terbakar dan temperature maka tidak akan terjadi kebakaran, begitu pula jika hanya ada udara saja tanpa adanya temperature dan bahan yang mudah terbakar maka tidak akan terjadi kebakaran. Jadi ketiga hal diatas amat vital dalam penyebab terjadinya kebakaran.



2.4 Reaksi Kimiawi Kebakaran Tajuk Pohon
Pada dasarnya sama pada kebakaran seperti biasa :
(CH2O)n + O2                         n CO2 + n H2O (anorganik)
Kebakaran Tajuk pohon pada dasar nya sama pada kebakaran biasa hanya saja yang terbakar bagian tajuk pohonnya yang merupakan penyalahan bahan-bahan organic kering yang ada di dalam hutan,inilah yang meyebabkan ti pe kebakaran sangat bervariasi yang salah satu contohnya adalah kebakaran tajuk (crown fire).

2.5 Penyebab Terjadinya Kebakaran Tajuk Hutan

Pada halnya kebakaran pada umumnya kebakaran tajuk pun memiliki penyebabnya antara lain
1.      Adanya sumber api
2.      Adanya api yang meloncat
3.      Adanya tajuk yang sudah kering
4.      Adanya tiupan angin yang kencang
5.      Adanya kondisi yang mendukung

2.6 Dampak Akibat Kebakaran Tajuk Pohon
Seperti kebakaran yang sudah sering terlihat, kebakaran tajuk juga mempunyai dampak antara lain sebagai berikut :
a)      Menimbulkan asap
b)      Menyebabkan mematikan pohon itu sendiri
c)      Menimbulkan kerusakan vegetasi tumbuhan lain yang ada di sekitar
d)     Pencemaran udara karena adanya abu-abu yang beterbangan
e)      Merusak ekosistem hutan dan kawasan hutan


2.7 Faktor Pendukung Kebakaran Tajuk

Seperti pada kebakaran pada umumnya, kebakaran tajuk juga memiliki factor pendukung terjadinya kebakaran tajuk di antaranya di dukung oleh factor-faktor iklim, topografi, bahan bakar dan pengawasan yang tidak baik.
Iklim mikro yang terdiri dari suhu,kelembaban udara relative dan kecepatan angin merupakan factor alam yang mendorong terjadinya kebakaran tajuk pohon terutama pada musim kemarau. Pada musim kemarau kelembababan udara relative rendah dan suhu meningkat  sehingga menyebabkan seresah yang ada di lantai hutan menjadi kering dan mudah terbakar, apa bila lantai hutan sudah terbakar maka cepat atau lambat akan menjalar ke bagian tajuk pohon. Angin merupakan unsur iklim yang mampu membuat locatan api sehingga kebakaran tajuk cepat meluas ke pohon yang lain.
Walapun iklim mikro, topografi dan bahan bakar dalam kondisi yang rawan terhadap bahaya api, namun apa bila tingkat pengelolaan terhadap hutan cukup memadai, bahaya kebakaran akan dapat di kendalikan secara maksimal.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan diatas dapatlah kita simpulkan bahwa kebakaran hutan  pada tajuk dapat terjadi karena adanya percikan api (loncatan api) dari kebakaran yang dibawa oleh angin, petir,  rambatan dari pohon yang lain. Kebakaran pada tajuk juga dapat berdampak buruk bagi pohon seperti: rusaknya tunas muda pada pohon, mengganggu proses fotosintesis pada daun dapat menyebabkan keringnya daun dan akhirnya daun menjadi gugur.
3.2 Saran
Hendaknya sebagai generasi penerus bangsa kita harus selalu menjaga hutan dari  kerusakan apapun terutama kebakaran yang amat fatal akibatnya. Dan diharapkan bagi para pembaca untuk mendalami akan makalah ini baik dengan dengan cara melakukan penelitian, tinjauan atau lain sebagainya. Karena kami sangat menyadari akan kekurangan dalam menyusun makalah ini.









DAFTAR PUSTAKA

Sumardi dan Widyastuti S.M. 2007. Dasar-dasar Perlindungan Hutan. Gadjah Mada University Press. Yogyakata.
Anonym. ____________. Hutan di athena kian meluas. http://vibizdaily .com/preview/internasional/ 2009/08/25/kebakaran
Anonym. _____________. kebakaran-hutan-kalimantan-tengah.  http://images. google.co.id/imglanding?q=kebakaran%20hutan%20di%20indonesia&imgurl=http://betang.com/wp-content/uploads/





biled honda beat